KETULUSAN CINTA
Dalam
hening kegelisahan cinta yang kian merana. Menunggu fajar cerah kan menari di
atas ufuk timur. Hembusan angin pagi kan menyapu tiap titik noda yang
berserakan. Suara burung yang merdu pun terdengar menambah kesejukan tiap sudut
pintu yang terbuka lebar buat ku.
Menempuh hidup baru yang sulit tak berarti akan cemerlang dalam sekejap mata.
Itulah cinta , perumpamaan yang sempurna dalam hidup ini.
Sesosok
perempuan jelita menghampiri ku dalam kesendirian yang berlangsung. Hingga menyapa
ku, dalam lamunan dan canda tawa. Meski ku tak kenal dia, tapi ku coba ‘tuk
memberi ucapan selamat pagi.
Dari cerita bersama ku dan dia, kita
sepakat ‘tuk menaruh cinta yang terlahir dari mulut kami.
Seketika itu,
terlihat seorang anak kecil yang tertawa malu. Lalu kami pun, menghampiri ia.
Dan ku lihat dari raut wajah nya yang bahagia, ternyata ia baru saja
mendapatkan sebuah bingkisan yang lucu dari seorang putri cantik yang
berparaskan lembayung jingga.
Setelah ku mengenal mereka, lalu aku pun berpikir sejenak …
Tergambar di bayanganku wujud wanita
jelita bak permaisuri istana dan anak kecil yang tertawa malu. Dalam hening aku
pun berpikir. Tak lama dari itu aku langsung bergegas masuk rumah.
Malam
yang indah tak satu pun bintang yang menyapa ku ‘tuk mengucapkan salam bahagia.
Begitu hening hingga aku terdiam memikirkan wanita jelita itu.
Tak
sadar dalam hati kecil ku. Mengapa aku harus mengatakan cinta. Padahal, kami
baru saja berkenalan dan kami pun belum saling mengenal satu dengan yang
lainnya. Jam pun berbunyi membawa perintah untuk ku, tidur malam. Terasa lelah
dalam pikiranku pun menggelayuti sehingga aku harus berbaring dalam kasur empuk
dan selimut yang lembut. Lalu malam pun bergelayut dengan suara jangkrik dan
kodok yang menambah kepuasan dalam tidur ku malam ini.
Keesokan
harinya aku pun langsung berputar arah dari tempat tidur menuju kamar mandi dan
mengganti pakaian ku dengan celana seragam SMA yang pertama kali ku pakai.
Karena aku baru saja memakainya untuk memulai aktifitas yang baru. Sesampainya
di sekolah ku melihat satu per satu murid baru yang masuk. Dan tiba-tiba mataku
tertuju pada satu murid. Ia terlihat begitu sempurna dari yang lainnya. Mengenakan sepatu putih
dan baju seragam putih yang bersih.
Tiba-tiba
dengan rasa malu aku pun membuka hatiku untuknya. Dan kita berkenalan, ternyata
ia adalah wanita jelita yang kemarin ku menyatakan cinta dengannya. Sungguh ku
tidak menduga akan sekolah bersama dengannya.
Pak
Guru pun memukul lonceng pertanda seluruh murid memasuki ruangan masing-masing.
Tanpa
ku sadari ternyata ia sekelas dengan ku. Disitu aku tersipu malu. Aku hanya melihat
ia dari jarak jauh. Namun, ketika guru SMA ku memberikan kesempatan pada murid
untuk menanyakan suatu pertanyaan. Aku pun terdiam, tetapi tidak dengan dia.
Dalam hitungan menit ia langsung memberikan pertanyaan sesuai dengan materi
ini.
Tepat
pukul 12.00, bel pun berbunyi, pertanda istirahat, aku akan selalu bersamanya.
Namun tidak berlangsung begitu. Tiba-tiba aku dipanggil oleh seorang guru untuk
menghantarkan pesanan kepada Nyonya Ningrat di belakang sekolah.
Kesempatan
pun terlewatkan sudah. Namun aku tetap bersemangat dan tidak mudah putus asa,
karena hanya dia lah satu-satunya wanita yang mampu membangkitkan hatiku yang dulu telah punah
dalam himpitan cinta yang tak terbayarkan.
Untuk
kedua kalinya para murid masuk ke ruangan untuk
melanjutkan materi yang akan di berikan oleh Bapak dan Ibu Guru. Tak sadar aku
dibuai dengan perasaan ini, rupanya materi yang akan disampaikan masalah Cinta
Anak Remaja di Sekolah. Hatiku tersentak kaget mendengar materi itu. Lalu aku
berpikir untuk membuat pertanyaan yang berkenaan dengan materi itu.
Setelah Ibu Guru
memberikan kesempatan untuk bertanya, aku pun mengacungkan jari ku untuk
menanyakan pertanyaan ku.
Dan aku berkata
: “Hal-hal apa saja yang membuat seorang
wanita jadi tertarik oleh seorang laki-laki?”.
Setelah itu,
para murid pun tersenyum pada ku termasuk dia. “Ya,
aku pun sangat malu, sebenarnya apa yang terjadi padaku, kataku dalam benak ku”.
“Ternyata kata Guru ku, itu adalah
pertanyaan menarik yang mampu para murid laki-laki dapat mencarinya”.
Lalu aku pun menjawab dengan suara
lembut”, memang apa itu pertanyaan yang menarik?”
kataku. Tiba-tiba seluruh murid wanita menjawab serentak : “Ya,
itu pertanyaan terbaik dan menarik”.
“Dan hatiku berkata jadi aku adalah orang
yang mampu memberikan wanita sejuta warna yang cerah…?
Lonceng pun
berbunyi, pertanda materi segera berakhir. Aku pun bergegas untuk pulang.
Sesampainya di parkiran, tak sengaja ku
menghampiri ia. Dengan perasaan masih malu, aku pun menyapanya: Hei, cantik.
Mau pulang kemana? Maukah kau pulang denganku. Lalu ia pun menjawab : Ya,
boleh. Lagi pula aku tidak di jemput dengan sopir ku. Kamu mau beneran, kan, tanyaku
seolah tak meyakinkan jawaban dia. Ya,
iyalah, jawab dia. Memangnya aku bohong sama kamu. Baiklah kalau begitu, mari
naik denganku, jawabku, untuk memberi respon kepadanya menyuruh naik ke motor
ku.. Ya, terima kasih, katanya.
Hatiku pun bahagia mendengar ucapannya,
untuk ikut bersamaku. Karena aku memang sudah tidak sabar lagi ingin
bertanya-tanya dengannya.
Selang waktu,
tibalah saatnya aku untuk mengucapkan sesuatu yang telah lama ku pendam dalam
hati kecil.
Aku pun berkata
: “By the way, kamu mau pulang kemana?
Kelihatannya kamu anak orang kaya, ya?. Kemudian ia pun menjawab: Aku mau
pulang ke Nusa Cinta. Disana aku ikut dengan pamanku yang kebetulan bekerja di
Dinas Pendidikan. Ya, maklumlah. Pamanku adalah orang terbaik di desanya ketika
ia SMA. Maksudnya, dia selalu meraih banyak juara di perlombaan. Walaupun itu
hanya tingkat kabupaten. Tetapi, ia adalah orang yang gemar bercinta. Kalau
kamu bagaimana? Rumah kamu dimana, pasti kamu anak orang yang terhormat, ya
….?? Ahh … aku sich orang yang biasa saja. Hanya saja, memang orang tuaku
sangat kaya. Ayahku seorang Direktur Bank dan Ibuku seoarang Pengusaha Sukses,
kata ku. Aduh … kenapa kita bicara itu, ya. Kan, itu urusan mereka, kenapa kita
harus ikut campur.
“Ooch … ya. Siapa namamu …??, tanya ku
kepadanya. Namaku Putri Rachel Kasturi, jawab ia.
“Masya Allah … Nama kamu sangat indah dan
cantik, pasti kamu terlahir dengan paras yang sangat cantik, ya.
Ahh … tidak lah. Kenapa??. Aku dari
keluarga yang biasa saja, dan aku tidak pernah terpikir oleh kekayaan duniawi.
Ooohh.. begitu…
Namaku Arief Ar Rahman Al Ghazali …
Lalu dengan nada cepat ia langsung berkata : “Arief,
stop disini aja, terima kasih, ya. Hati-hati, salam dengan orang tuamu, ya.
Ya, sama-sama. Terima kasih kembali.
Sesampainya di
rumah, aku segera menggulingkan badanku dan memikirkan hal tersebut. Tanpa
sengaja aku telah melewatkan kesepianku dan kesedihanku.
Mentari pun
telah hilang dari persinggahannya, langit pun telah memerah, lembayung jingga
pun terbiaskan dengan warna pelangi. Burung – burung yang baru saja pulang dari
tempat permainan kini telah usai.
Terdengar suara seruling merdu menyambut
datangnya malam yang kian sunyi. Dari pagi hingga malam tak pernah terhitung
pekerjaan yang aku kerjakan.
Hari demi hari akan berlalu, menyapu
kesunyian dalam diri yang semakin dewasa. Mengintai jejak cinta yang tak pernah
usai dalam terangnya hidup ini. Tiga tahun telah bersamanya mengisi waktu
bersama, menjalani cinta dan cobaan hidup yang membuat kami terjatuh dalam
gelora asmara.
Kini, saat yang tepat memberikan ucapan
yang terakhir bersamanya, walaupun terasa berat tetapi aku masih ingin
bersandiwara ‘tuk mengisi hari ini. Namun, mungkinkah semuanya akan berjalan
dengan baik, sederas air yang mengalir dan selembut sutra yang melapisi kain
putih.
Terurai dalam tangis,
meliputi uraian air mata yang berdo’a. Ya Allah ku mohon kau berkati kami …
Saat yang tepat bagiku untuk melepaskan
kasih cinta yang telah lama mengalir dalam diri kami berdua.
Tiga
tahun telah kulewati bersamanya, belajar, bermain dan bercinta. Itulah hal yang
bisa ku berikan dalam kerasnya roda putaran dunia. Namun, kami tidak akan
pernah cukup menghabiskan waktu itu selama tiga tahun meskipun sudah terlihat
jelas, kalau itu waktu panjang ‘tuk berpacaran dan menghabiskan segalanya
dengan kesenangan.
Sampai
pada waktu yang diinginkan kami berdua melepaskan air mata yang akan mengalir
bertubi-tubi, hingga kami pun berbincang untuk terakhir kali nya. Perpisahan
ini bukan merupakan akhir dari segalanya, karena akan ada masa bahagia yang
akan mengalir secara perlahan bak darah yang mengalirkan cairan dalam tubuh
hingga cairan itu melekat pada organ tubuh yang sudah menjadi struktur
kehidupannya.
Terpikir
dalam pikiran ku yang telah dewasa ini, untuk menggapai mimpi dan cita-cita
yang ku inginkan dan menjadi seorang yang berarti bagi semuanya, termasuk dia.
Akankah mungkin dalam sekejap mata?? Ataukah dalam selintas pikiran yang
melintang dalam otak ku, hingga aku bisa mengartikannya kedalam suatu dasar
cinta yang dalam.
Aduh … kenapa
pikiranku telah melayang jauh, hingga batas yang telah ditentukan masanya.
Aku takut dengan ini semua tak berjalan
dengan yang aku harapkan, jika memang nantinya harus berakhir demikian. Tetapi
semua itu tidak mungkin berubah pasti akan terjadi, tidak ada yang bisa membatasinya
dan mengetahuinya. . .
Ya
Allah … aku sampai lupa tentang acara sekolah hari ini. Dimana ya, undangan
itu. Bisa jadi aku tidak dapat masuk, hanya karena undangan itu hilang.
Aku pun turun dengan cepat menghampiri
Ibu ku tercinta, untuk memberitahu akan ada acara di sekolah yang menyertakan
seluruh orang tua / wali murid untuk hadir tanpa terkecuali.
Lalu aku pun bergegas untuk berbenah
diri menghadapi seluruhnya dengan tenang dan cemerlang tanpa ada rasa kecewa
sedikit pun.
Pukul 08.00 aku berangkat bersama Ibu
dengan rasa penuh kegembiraan yang mendalam. Entah, apa yang aku pikirkan dan
apa yang sedang melanda hati kecilku. Tak dapat ku mengerti dengan jelas bentuk
dan istilah dari semua ini.
Kini sampailah aku di depan gerbang
masuk sekolah, disitu telah terlihat para orang tua / wali murid dari tiap para
siswa yang berdatangan. Aku pun menyalami mereka dengan raut wajah bahagia. Tak
lupa pula aku menyelami para guru.
Acara
pun di mulai, dari tiap-tiap kelas mengirimkan tampilan-tampilan yang berbeda.
Hampir tiga jam waktu yang telah ku lewati bersama teman-temanku. Tetapi, ia
belum kelihatan juga. Lalu ku tanya kepada Siska kawan dekatnya, katanya : ia
tidak akan mengikuti acara ini, karena dia sedang ikut tes di Amerika Serikat.
Hatiku pun telah lemah mendengar ucapan
dari siska. Mungkin apakah benar/tidak yang pasti itu akan menyelesaikan
tugas ku untuk berbicara kepadanya.
Tiba-tiba
dari kejauhan terlihat sesosok perempuan cantik, memakai kebaya putih bak putri
raja yang turun dari tumpangan kuda permadani. Semakin lama semakin mendekat.
Entah siapa gerangan sepertinya aku belum pernah melihat sebelumnya. Tak lama
kemudian ia duduk di sebelahku, setelah ku lihat kembali ternyata, Putri, pacar
saya yang telah lama akan dating kepelukanku merayakan perpisahan bersama
teman-teman.
Hatiku
terasa begitu dingin yang telah lama panas dalam kobaran api, karena ia tak
juga datang. Meskipun ia datang, tetapi aku belum merasa bahagia 100%, karena
dia datang pasti bukan untukku.
Acara
yang sesungguhnya pun di mulai, sekarang penyerahan Gordon dan Album Foto yang
langsung akan di serahkan oleh Bapak H. Iskandar Muda Alamsyah, S.Pd.I, seorang
Asisten I Bupati yang mewakili
ketidakhadirannya dalam acara ini. Akan tetapi, hatiku juga sudah cukup
bahagia.
Satu per satu
siswa di panggil untuk mengambil dan mengenakannya. Akhirnya, tibalah aku untuk
menerima penghargaan itu. Jantung terus berdetak kencang seraya tak ingin
berhenti untuk memberikan support atas berhasilnya aku dan lolos menjadi
seorang mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Ibukota. Setelah
pangilan untuk mengenakan penghargaan. Aku pun di panggil untuk maju kedepan
pentas menghampiri Bapak Kepala Sekolah. Aku berpikir, sebenarnya apa yang
terjadi padaku, apa salahku. Tak disangka aku di suruh maju ke depan pentas,
untuk menerima penghargaan yang kedua kalinya, yaitu berupa Beasiswa dan Trophy
pengharagaan Siswa Teladan dan Berprestasi serta piagam Rangking 2 Nilai Ujian
Terbesar dan Terbaik se-Provinsi dan juga Rangking 1 Nilai Ujian Terbaik dan
Terbesar di sekolah.
Aku tidak pernah menyangka akan
mendapatkan 4 sekaligus penghargaan, padahal nilai ku pada tahun ini sangat
kecil dari merka semua. Rasa senang yang menggebu-gebu muncul sangat jauh
berbeda dari biasanya. Akan tetapi aku masih belum melihat Putri ada di ruangan
ini. Dan pda saat bahagia kita semua.
Dalam riuh pikuk siswa-siswi dan tangis
tawa ku merenung atas dia dan dia.
Tiba-tiba
selembar tisu lembut pun memberiku
ungkapan. Dan tak kusangka siapa yang telah memberikan tisu kepada ku. Dialah Putri.
Ia menyapaku dengan lembutnya, “Arief kenapa kamu, apa yang terjadi denganmu?.
Aku baik-baik saja, jawab ku. Bagaimana dengan mu, apakah kamu telah berhasil
lolos dalam tes SNMPTN itu? Ya, begitulah. Tetapi aku minta maaf, ya. Kenapa?
Dengan raut wajah yang sedih dia ingin mengatakan sesuatu. Tak seperti biasanya
ia menangis tersedu-sedu hingga air mata pun membasahi pipi yang bersih itu.
Aku terpaksa
bicara kepada mu untuk terakhir kalinya. Memang ada apa??, kataku.
Aku … sebenarnya memang suka dengan mu,
tetapi aku tidak bisa untuk meninggalkan mu sendiri disini. Sedangkan aku harus
pergi meninggalkan mu. Aku telah diterima di Universitas , Amerika Serikat. Dan
setelah acara ini aku harus berangkat. Aku .. sangat tulus mencintaimu dan aku
takut. Dan ia pun menangis tersedu-sedu dan merangkul ku sebagai ucapan selamat
tinggal. Namun aku terus membujuknya untuk tidak menangis. Tiba-tiba kami di
suruh untuk maju ke depan melakukan pengambilan foto, sebagai bukti LULUS nya
kami. . .
Setelah itu, barulah kami
bersalam-salaman dan saling merangkul satu sama lain.
Putri pun
menitipkan sesuatu kepada ku sebagai bukti ketulusan cinta kami berdua yakni
sepasang cincin cinta dan jam beker yang akan selalu menngingatkan aku kepada
waktu yang telah memberikan kepercayaan …
Selesai acara,
ia langsung berangkat. Dan untuk kedua kalinya kami saling berangkulan erat.
Begitu tulusnya cinta kami, sehingga
harus terpisahkan oleh dua sekolah yang berbeda jauh..
Memang kita tidak pernah membayangkan
kapan kita akan di pisahkan, hanya waktu lah yang akan menjawab..