Selasa, 20 November 2012

CERPEN



KETULUSAN CINTA

Dalam hening kegelisahan cinta yang kian merana. Menunggu fajar cerah kan menari di atas ufuk timur. Hembusan angin pagi kan menyapu tiap titik noda yang berserakan. Suara burung yang merdu pun terdengar menambah kesejukan tiap sudut pintu yang terbuka lebar buat ku. Menempuh hidup baru yang sulit tak berarti akan cemerlang dalam sekejap mata. Itulah cinta , perumpamaan yang sempurna dalam hidup ini.
Sesosok perempuan jelita menghampiri ku dalam kesendirian yang berlangsung. Hingga menyapa ku, dalam lamunan dan canda tawa. Meski ku tak kenal dia, tapi ku coba ‘tuk memberi ucapan selamat pagi.
Dari cerita bersama ku dan dia, kita sepakat ‘tuk menaruh cinta yang terlahir dari mulut kami.

Seketika itu, terlihat seorang anak kecil yang tertawa malu. Lalu kami pun, menghampiri ia. Dan ku lihat dari raut wajah nya yang bahagia, ternyata ia baru saja mendapatkan sebuah bingkisan yang lucu dari seorang putri cantik yang berparaskan lembayung jingga.
Setelah ku mengenal  mereka, lalu aku pun berpikir sejenak …
Tergambar di bayanganku wujud wanita jelita bak permaisuri istana dan anak kecil yang tertawa malu. Dalam hening aku pun berpikir. Tak lama dari itu aku langsung bergegas masuk rumah.
Malam yang indah tak satu pun bintang yang menyapa ku ‘tuk mengucapkan salam bahagia. Begitu hening hingga aku terdiam memikirkan wanita jelita itu.
Tak sadar dalam hati kecil ku. Mengapa aku harus mengatakan cinta. Padahal, kami baru saja berkenalan dan kami pun belum saling mengenal satu dengan yang lainnya. Jam pun berbunyi membawa perintah untuk ku, tidur malam. Terasa lelah dalam pikiranku pun menggelayuti sehingga aku harus berbaring dalam kasur empuk dan selimut yang lembut. Lalu malam pun bergelayut dengan suara jangkrik dan kodok yang menambah kepuasan dalam tidur ku malam ini.
Keesokan harinya aku pun langsung berputar arah dari tempat tidur menuju kamar mandi dan mengganti pakaian ku dengan celana seragam SMA yang pertama kali ku pakai. Karena aku baru saja memakainya untuk memulai aktifitas yang baru. Sesampainya di sekolah ku melihat satu per satu murid baru yang masuk. Dan tiba-tiba mataku tertuju pada satu murid. Ia terlihat begitu sempurna  dari yang lainnya. Mengenakan sepatu putih dan baju seragam putih yang bersih.
Tiba-tiba dengan rasa malu aku pun membuka hatiku untuknya. Dan kita berkenalan, ternyata ia adalah wanita jelita yang kemarin ku menyatakan cinta dengannya. Sungguh ku tidak menduga akan sekolah bersama dengannya.
Pak Guru pun memukul lonceng pertanda seluruh murid memasuki ruangan masing-masing.
Tanpa ku sadari ternyata ia sekelas dengan ku. Disitu aku tersipu malu. Aku hanya melihat ia dari jarak jauh. Namun, ketika guru SMA ku memberikan kesempatan pada murid untuk menanyakan suatu pertanyaan. Aku pun terdiam, tetapi tidak dengan dia. Dalam hitungan menit ia langsung memberikan pertanyaan sesuai dengan materi ini.
Tepat pukul 12.00, bel pun berbunyi, pertanda istirahat, aku akan selalu bersamanya. Namun tidak berlangsung begitu. Tiba-tiba aku dipanggil oleh seorang guru untuk menghantarkan pesanan kepada Nyonya Ningrat di belakang sekolah.
Kesempatan pun terlewatkan sudah. Namun aku tetap bersemangat dan tidak mudah putus asa, karena hanya dia lah satu-satunya wanita yang mampu  membangkitkan hatiku yang dulu telah punah dalam himpitan cinta yang tak terbayarkan.
Untuk kedua kalinya para murid masuk ke ruangan untuk melanjutkan materi yang akan di berikan oleh Bapak dan Ibu Guru. Tak sadar aku dibuai dengan perasaan ini, rupanya materi yang akan disampaikan masalah Cinta Anak Remaja di Sekolah. Hatiku tersentak kaget mendengar materi itu. Lalu aku berpikir untuk membuat pertanyaan yang berkenaan dengan materi itu.
Setelah Ibu Guru memberikan kesempatan untuk bertanya, aku pun mengacungkan jari ku untuk menanyakan pertanyaan ku.
Dan aku berkata : Hal-hal apa saja yang membuat seorang wanita jadi tertarik oleh seorang laki-laki?”.
Setelah itu, para murid pun tersenyum pada ku termasuk dia. Ya, aku pun sangat malu, sebenarnya apa yang terjadi padaku, kataku dalam benak ku.
Ternyata kata Guru ku, itu adalah pertanyaan menarik yang mampu para murid laki-laki dapat mencarinya.
Lalu aku pun menjawab dengan suara lembut”, memang apa itu pertanyaan yang menarik?” kataku. Tiba-tiba seluruh murid wanita menjawab serentak : Ya, itu pertanyaan terbaik dan menarik”.
Dan hatiku berkata jadi aku adalah orang yang mampu memberikan wanita sejuta warna yang cerah…?

Lonceng pun berbunyi, pertanda materi segera berakhir. Aku pun bergegas untuk pulang.
Sesampainya di parkiran, tak sengaja ku menghampiri ia. Dengan perasaan masih malu, aku pun menyapanya: Hei, cantik. Mau pulang kemana? Maukah kau pulang denganku. Lalu ia pun menjawab : Ya, boleh. Lagi pula aku tidak di jemput dengan sopir ku. Kamu mau beneran, kan, tanyaku seolah tak meyakinkan jawaban dia. Ya, iyalah, jawab dia. Memangnya aku bohong sama kamu. Baiklah kalau begitu, mari naik denganku, jawabku, untuk memberi respon kepadanya menyuruh naik ke motor ku.. Ya, terima kasih, katanya.
Hatiku pun bahagia mendengar ucapannya, untuk ikut bersamaku. Karena aku memang sudah tidak sabar lagi ingin bertanya-tanya dengannya.

Selang waktu, tibalah saatnya aku untuk mengucapkan sesuatu yang telah lama ku pendam dalam hati kecil.
Aku pun berkata : By the way, kamu mau pulang kemana? Kelihatannya kamu anak orang kaya, ya?. Kemudian ia pun menjawab: Aku mau pulang ke Nusa Cinta. Disana aku ikut dengan pamanku yang kebetulan bekerja di Dinas Pendidikan. Ya, maklumlah. Pamanku adalah orang terbaik di desanya ketika ia SMA. Maksudnya, dia selalu meraih banyak juara di perlombaan. Walaupun itu hanya tingkat kabupaten. Tetapi, ia adalah orang yang gemar bercinta. Kalau kamu bagaimana? Rumah kamu dimana, pasti kamu anak orang yang terhormat, ya ….?? Ahh … aku sich orang yang biasa saja. Hanya saja, memang orang tuaku sangat kaya. Ayahku seorang Direktur Bank dan Ibuku seoarang Pengusaha Sukses, kata ku. Aduh … kenapa kita bicara itu, ya. Kan, itu urusan mereka, kenapa kita harus ikut campur.

Ooch … ya. Siapa namamu …??, tanya ku kepadanya. Namaku Putri Rachel Kasturi, jawab ia.
Masya Allah … Nama kamu sangat indah dan cantik, pasti kamu terlahir dengan paras yang sangat cantik, ya.
Ahh … tidak lah. Kenapa??. Aku dari keluarga yang biasa saja, dan aku tidak pernah terpikir oleh kekayaan duniawi.
Ooohh.. begitu…
Namaku Arief Ar Rahman Al Ghazali …
Lalu dengan nada cepat ia langsung berkata : “Arief, stop disini aja, terima kasih, ya. Hati-hati, salam dengan orang tuamu, ya.
Ya, sama-sama. Terima kasih kembali.

Sesampainya di rumah, aku segera menggulingkan badanku dan memikirkan hal tersebut. Tanpa sengaja aku telah melewatkan kesepianku dan kesedihanku.



 


Mentari pun telah hilang dari persinggahannya, langit pun telah memerah, lembayung jingga pun terbiaskan dengan warna pelangi. Burung – burung yang baru saja pulang dari tempat permainan kini telah usai.
Terdengar suara seruling merdu menyambut datangnya malam yang kian sunyi. Dari pagi hingga malam tak pernah terhitung pekerjaan yang aku kerjakan.
Hari demi hari akan berlalu, menyapu kesunyian dalam diri yang semakin dewasa. Mengintai jejak cinta yang tak pernah usai dalam terangnya hidup ini. Tiga tahun telah bersamanya mengisi waktu bersama, menjalani cinta dan cobaan hidup yang membuat kami terjatuh dalam gelora asmara.
Kini, saat yang tepat memberikan ucapan yang terakhir bersamanya, walaupun terasa berat tetapi aku masih ingin bersandiwara ‘tuk mengisi hari ini. Namun, mungkinkah semuanya akan berjalan dengan baik, sederas air yang mengalir dan selembut sutra yang melapisi kain putih.
Terurai dalam tangis, meliputi uraian air mata yang berdo’a. Ya Allah ku mohon kau berkati kami …
Saat yang tepat bagiku untuk melepaskan kasih cinta yang telah lama mengalir dalam diri kami berdua.

Tiga tahun telah kulewati bersamanya, belajar, bermain dan bercinta. Itulah hal yang bisa ku berikan dalam kerasnya roda putaran dunia. Namun, kami tidak akan pernah cukup menghabiskan waktu itu selama tiga tahun meskipun sudah terlihat jelas, kalau itu waktu panjang ‘tuk berpacaran dan menghabiskan segalanya dengan kesenangan.
Sampai pada waktu yang diinginkan kami berdua melepaskan air mata yang akan mengalir bertubi-tubi, hingga kami pun berbincang untuk terakhir kali nya. Perpisahan ini bukan merupakan akhir dari segalanya, karena akan ada masa bahagia yang akan mengalir secara perlahan bak darah yang mengalirkan cairan dalam tubuh hingga cairan itu melekat pada organ tubuh yang sudah menjadi struktur kehidupannya.
Terpikir dalam pikiran ku yang telah dewasa ini, untuk menggapai mimpi dan cita-cita yang ku inginkan dan menjadi seorang yang berarti bagi semuanya, termasuk dia. Akankah mungkin dalam sekejap mata?? Ataukah dalam selintas pikiran yang melintang dalam otak ku, hingga aku bisa mengartikannya kedalam suatu dasar cinta yang dalam.
Aduh … kenapa pikiranku telah melayang jauh, hingga batas yang telah ditentukan masanya.
Aku takut dengan ini semua tak berjalan dengan yang aku harapkan, jika memang nantinya harus berakhir demikian. Tetapi semua itu tidak mungkin berubah pasti akan terjadi, tidak ada yang bisa membatasinya dan mengetahuinya. . .

            Ya Allah … aku sampai lupa tentang acara sekolah hari ini. Dimana ya, undangan itu. Bisa jadi aku tidak dapat masuk, hanya karena undangan itu hilang.
Aku pun turun dengan cepat menghampiri Ibu ku tercinta, untuk memberitahu akan ada acara di sekolah yang menyertakan seluruh orang tua / wali murid untuk hadir tanpa terkecuali.
Lalu aku pun bergegas untuk berbenah diri menghadapi seluruhnya dengan tenang dan cemerlang tanpa ada rasa kecewa sedikit pun.
Pukul 08.00 aku berangkat bersama Ibu dengan rasa penuh kegembiraan yang mendalam. Entah, apa yang aku pikirkan dan apa yang sedang melanda hati kecilku. Tak dapat ku mengerti dengan jelas bentuk dan istilah dari semua ini.

Kini sampailah aku di depan gerbang masuk sekolah, disitu telah terlihat para orang tua / wali murid dari tiap para siswa yang berdatangan. Aku pun menyalami mereka dengan raut wajah bahagia. Tak lupa pula aku menyelami para guru.

Acara pun di mulai, dari tiap-tiap kelas mengirimkan tampilan-tampilan yang berbeda. Hampir tiga jam waktu yang telah ku lewati bersama teman-temanku. Tetapi, ia belum kelihatan juga. Lalu ku tanya kepada Siska kawan dekatnya, katanya : ia tidak akan mengikuti acara ini, karena dia sedang ikut tes di Amerika Serikat. Hatiku pun telah lemah mendengar ucapan  dari siska. Mungkin apakah benar/tidak yang pasti itu akan menyelesaikan tugas ku untuk berbicara kepadanya.
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sesosok perempuan cantik, memakai kebaya putih bak putri raja yang turun dari tumpangan kuda permadani. Semakin lama semakin mendekat. Entah siapa gerangan sepertinya aku belum pernah melihat sebelumnya. Tak lama kemudian ia duduk di sebelahku, setelah ku lihat kembali ternyata, Putri, pacar saya yang telah lama akan dating kepelukanku merayakan perpisahan bersama teman-teman.
Hatiku terasa begitu dingin yang telah lama panas dalam kobaran api, karena ia tak juga datang. Meskipun ia datang, tetapi aku belum merasa bahagia 100%, karena dia datang pasti bukan untukku.
Acara yang sesungguhnya pun di mulai, sekarang penyerahan Gordon dan Album Foto yang langsung akan di serahkan oleh Bapak H. Iskandar Muda Alamsyah, S.Pd.I, seorang Asisten I Bupati yang mewakili  ketidakhadirannya dalam acara ini. Akan tetapi, hatiku juga sudah cukup bahagia.
Satu per satu siswa di panggil untuk mengambil dan mengenakannya. Akhirnya, tibalah aku untuk menerima penghargaan itu. Jantung terus berdetak kencang seraya tak ingin berhenti untuk memberikan support atas berhasilnya aku dan lolos menjadi seorang mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Ibukota. Setelah pangilan untuk mengenakan penghargaan. Aku pun di panggil untuk maju kedepan pentas menghampiri Bapak Kepala Sekolah. Aku berpikir, sebenarnya apa yang terjadi padaku, apa salahku. Tak disangka aku di suruh maju ke depan pentas, untuk menerima penghargaan yang kedua kalinya, yaitu berupa Beasiswa dan Trophy pengharagaan Siswa Teladan dan Berprestasi serta piagam Rangking 2 Nilai Ujian Terbesar dan Terbaik se-Provinsi dan juga Rangking 1 Nilai Ujian Terbaik dan Terbesar di sekolah.
Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan 4 sekaligus penghargaan, padahal nilai ku pada tahun ini sangat kecil dari merka semua. Rasa senang yang menggebu-gebu muncul sangat jauh berbeda dari biasanya. Akan tetapi aku masih belum melihat Putri ada di ruangan ini. Dan pda saat bahagia kita semua.
Dalam riuh pikuk siswa-siswi dan tangis tawa ku merenung atas dia dan dia.

Tiba-tiba selembar tisu lembut pun  memberiku ungkapan. Dan tak kusangka siapa yang telah memberikan tisu kepada ku. Dialah Putri. Ia menyapaku dengan lembutnya, “Arief kenapa kamu, apa yang terjadi denganmu?. Aku baik-baik saja, jawab ku. Bagaimana dengan mu, apakah kamu telah berhasil lolos dalam tes SNMPTN itu? Ya, begitulah. Tetapi aku minta maaf, ya. Kenapa? Dengan raut wajah yang sedih dia ingin mengatakan sesuatu. Tak seperti biasanya ia menangis tersedu-sedu hingga air mata pun membasahi pipi yang bersih itu.
Aku terpaksa bicara kepada mu untuk terakhir kalinya. Memang ada apa??, kataku.     
Aku … sebenarnya memang suka dengan mu, tetapi aku tidak bisa untuk meninggalkan mu sendiri disini. Sedangkan aku harus pergi meninggalkan mu. Aku telah diterima di Universitas , Amerika Serikat. Dan setelah acara ini aku harus berangkat. Aku .. sangat tulus mencintaimu dan aku takut. Dan ia pun menangis tersedu-sedu dan merangkul ku sebagai ucapan selamat tinggal. Namun aku terus membujuknya untuk tidak menangis. Tiba-tiba kami di suruh untuk maju ke depan melakukan pengambilan foto, sebagai bukti LULUS nya kami. . .
Setelah itu, barulah kami bersalam-salaman dan saling merangkul satu sama lain.

Putri pun menitipkan sesuatu kepada ku sebagai bukti ketulusan cinta kami berdua yakni sepasang cincin cinta dan jam beker yang akan selalu menngingatkan aku kepada waktu yang telah memberikan kepercayaan …

Selesai acara, ia langsung berangkat. Dan untuk kedua kalinya kami saling berangkulan erat.
Begitu tulusnya cinta kami, sehingga harus terpisahkan oleh dua sekolah yang berbeda jauh..
Memang kita tidak pernah membayangkan kapan kita akan di pisahkan, hanya waktu lah yang akan menjawab..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar