Rabu, 06 Februari 2013


CINTAKU, ADIKKU SAYANG
Karya Arief Kurniatama

Sebelum matahari terbit, adik telah menangis karena haus. Ibu berjalan mengahampiri dan mendekap serta menimangnya. Kakak yang telah bangun dari kasur empuk itu bergegas sholat Shubuh. Setelah selesai sholat, ia langsung membuatkan susu untuk adik tercinta.
“Ini dek, susunya”. Bayi mungil itu terlihat memberikan senyuman hangat kepada sang kakak, karena telah memberikan susu untuknya. Ingin rasanya ia mengajak bercerita menanyakan kabar baik dan mengenal jauh siapa bayi mungil itu. Tetapi, rupanya ia masih mungil, belum dapat berbicara atau bahkan mengatakan I.B.U. Parasnya yang anggun membuat semua orang rindu dan senang melihatnya. Beberapa kali ia tertawa kecil memandang ke arah kita.

Hari itu mulai meyisakan waktu, pekerjaan rumah kini dimulai. Segala tugas telah menunggu. Akan tetapi sedari tadi kami bersenda gurau, Bapak belum memunculkan batang hidungnya untuk bersama-sama merapikan rumah yang berantakan karena tadi malam baru saja ada acara ‘aqiqah adik ketiga. Namun, kami tidak lekas berhenti dari bapak tidak bangun. Ibu membersihkan ruang depan dan tengah sedangkan kakak merapikan dapur dan kamar mandi.
Melihat adik yang kini tertidur lelap, rupanya ada misteri yang tergambar jelas di raut wajah kakak. Dia masih teringat dengan adik keduanya. Saat itu mereka bermain bersama di pinggir sungai. Kala itu air sungai mengalir sangat deras. Pohon saja dapat terbawa dengan cepat, apalagi manusia yang tidak dapat berenang dengan lincahnya. Tentu akan terseret hingga ke dasar.
Karena asyiknya bermain, kakak sampai lupa jika hari sudah mulai petang. Bergegas menyuruh adik pulang dan mencuci kaki. Tetapi apa yang dilihatnya, kakak merasa ada yang janggal. Dia tidak menemukan adiknya menjawab panggilannya. Kakak lalu mencari, tiba-tiba dari jauh terdengar suara anak kecil meminta tolong. “Tolong … tolong … tolong, kakak tolong adik”. Mengenali suaranya, kakak teringat dengan adik. Suara itu kembali terdengar dan mengecil. Kakak mengambil langkah cepat untuk menolong adik dan segera menghubungi ayah dan ibunda di rumah bahwa adik terseret arus sungai dan kini keadaannya darurat. Untunglah nyawanya masih dapat tertolong karena bantuan dari salah satu warga yang kebetulan lewat di tepian sungai, sesaat setelah mendengar teriakan orang meminta tolong. Ia rela menolong, karena kasihan melihat kakak yang hanya seorang diri di tepi sungai dan hanya seorang perempuan.
“Sekarang adik dirawat di rumah sakit, Bu. Keadaannya masih belum sadarkan diri”.
Ayah dan ibu terlihat sangat panik. Sebenarnya kakak tidak ingin menelpon ayah dan ibu, apalagi ibu masih mengandung adik yang ketiga. Kakak takut jika ibu terjadi apa-apa.

Keesokan harinya, kakak rela tidak sekolah karena setia menunggu adiknya yang dari kemarin belum kunjung membaik. Ia khawatir terjadi yang tidak diinginkan. Akan tetapi ia tetap terus berdoa untuk kesembuhan adik dan keshatan ibu yang kurang baik.
Dari belakang, seperti ada yang membisikkan. “Sholatlah dahulu, karena dengan sholat hatimu akan tenang dan adikmu akan lekas membaik”. Dengan cepat, kakak langsung ke tempat wudhu, kemudian mengambil mukena dan mendirikan sholat Dzhuhur.
Selesai sholat, dokter memberitahukan bahwa adik telah tiada. Adik telah berpulang ke rumah Allah. Tangan berkeringat, kening mengkerut, bingung, cemas dan takut. Dia tidak ingin memberitahu ayah dan ibu. Dia takut jika ayah dan ibunda marah bahwa adik telah tiada.
Akhirnya jenazah adik dibawa pulang dan dimakamkan di tempat penguburan umum di wilayah kampung. Akhirnya,  keluarga mengikhlaskan kepergian adik yang masih berumur 7 tahun itu.

Setahun kemudian, ibu melahirkan bayi cantik bernama Siti Fatimah Azzahra. Bayi cantik lagi mungil itu yang kini sedang tertidur lelap, karena dekapan sang ibu yang hangat.
Tepat pukul 08.00, pekerjaan rumah rampung. Kini waktunya ibu ke pasar, belanja sayur mayor dan buah-buahan tidak lupa juga kakak mengikuti ibu dari belakang.
Dengan wajah yang masih kaku, ayah bergegas menuju ke kamar adik. Ternyata adik masih tertidur lelap. Kemudian ayah melihat jam dan segera mandi dan bersiap pergi ke kantor. Tetapi, kakak dan ibu belum juga  pulang. Sehingga waktu ayah hilang 30 menit, karena menunggu adik Fian yang masih tertidur dengan lelap, karena semaleman ia belajar hingga larut malam.
Kembali ke rumah dengan wajah penuh gembira. Ibu dan kakak kembali ke dapur memasak bahan-bahan yang telah di beli dari pasar. Ayah berpamitan dengan ibu dan kakak.

Mega merah mulai berlabuh, menyamar menjadi Arjuna. Awan yang sedari tadi putih, kini ikut-ikutan bercampur dengan matahari yang mulai mengepakkan sayap layaknya burung merpati. Orang-orang mulai memadati sudut kampung yang ramai. Penutupan akhir tahun akan segera dimulai. Pedagang kaki lima, rela berjualan dari pagi hingga malam hari. Karena mereka ingin mendapatkan hasil dari usaha yang ia jualkan. Di depan rumah, masjid telah berkumandang melantunkan syair merdu sang pujangga hati. Selaras dengan akan tibanya penutupan akhir dari perjalanan panjang.
Keluarga kecil tadi kembali berkumpul. Ditengah-tengah keramaian pengendara motor berjalan. Ada seorang anak kecil mengantarkan selebaran. Sekilas terlihat di wajah kakak. Anak kecil itu mirip adik kedua. Setelah kakak bertanya dengan anak kecil itu, Ternyata nama yang dipakai juga hampir sama, yakni Farhan Aji Saputro, sedangkan nama adik kedua kakak Farhan Aji Saputra. Perlahan kakak lekas tersenyum lirih. Dia membaca isi dari selebaran itu. Ternyata isinya, akan ada “Tabligh Akbar” di Masjid Nurul Iman jam 20.00, ba’da isya dengan pembicara Ustadz Wahyudin Iman dan Ustadz Rivai Anwar Effendi.
Dengan tema “Membangun Keyakinan Hati dan Kemantapan Diri dengan Ibadah”. Kabar hangat itu langsung di beritahukan kepada sang ayah. Kakak tidak hanya mengajak keluarga di rumah untuk menghadiri tabligh akbar itu, ia juga mengajak teman-teman dan guru-guru sekolah untuk datang hadir sebagai pengganti malam tahun baru.
Wajah kakak tidak lagi terlihat sedih ketika semua teman-teman dan guru-guru datang ke Masjid Nurul Iman. Disana jama’ah diberikan sekantong makanan ringan dan nasi kotak sekaligus minuman hangat dan air putih.

Langit malam yang sedang berbisik kepada awan, mencoba untuk membawa mendung dan menurunkan hujan. Meskipun sekarang orang-orang mulai meramaikan sudut-sudut kampung untuk merayakan pergantian malam tahun baru.
Akhirnya bisikan itu terpenuhi. Malam yang tadinya ramai dengan suara kendaraan roda dua kini perlahan mulai meninggalkan  jejak diri. Hujan mulai turun membasahi mereka. Para pedagang dengan kesalnya menutup lapak-lapak mereka. Melihat kejadian itu, ruangan masjid kini penuh dengan jamaah yang berdatangan memunuhi tempat kosong. Keadaan di masjid semakin ramai dan tepat pukul 20.00 acara dimulai dengan membuka Basmallah bersama-sama dipandu oleh MC.
Dahsyatnya. Materi yang disampaikan benar-benar memberikan pengetahuan yang luar biasa. Meskipun sempat terjadi keributan di dalam, karena hujan mulai reda dan jama’ah mulai mengosongkan tempat masing-masing. Kisah-kisah teladan dari sahabat Nabi dituangkan dengan lancarnya kepada jama’ah yang mendengarkan. Hingga adik pertama tertidur lelap di bahu kakak.
“Tetttt … tetttt… teeettt”. Tepat pukul 24.00, keramaian itu mulai berganti kearah sudut kampung. Kembang api mulai menghiasi langit malam yang gelap. Bertaburan jauh ke angkasa. Indah seindah malam-malam di Moskow, Mesir. Jadi teringat dengan kecintaan kakak terhadap adik angkat yang rela membangunkan untuk melihat keindahan negara Moskow di balik padang pasir kering meronta.

Embun pagi meneteskan tiap ujungnya di sela-sela pepohonan hijau dan rindang. Terselubung serpihan kembang api di kaca rumah.  Menyelinap dan tak dapat diraih. Masih tercium bau kotor akibat lelahnya semalam yang mengkamuflase semua wujud benda di sekitar.
Burung-burung dara menepi di pagar-pagar rumah. Bersiul-siul beriringan, menyebut nama lagu kesukaan mereka. Masih terlihat begitu jelas senyuman sang bayi mungil yang lepas itu. Kursi dan meja yang tadi malam berada di luar rumah juga memberi senyuman hangat meski lusuh dan bernoda. Kisah surat kecil di perapian malam yang dengan tegas mengisi rasa pilu dan duka teringat adik kecil yang tak lagi disini.
Namun kerinduan dan rasa cinta itu masih ada hingga nanti. Waktu terus melaju seperti roda pedati. Tidak ada rasa kesal karena telah memutarkan waktu dengan cepat dan tak jemu.\Sebuah perubahan, kini berpindah dengan cepat meninggalkan bercak-bercak  hitam yang kusam. Ada yang menjadi inspirasi dan terinspirasi. Semuanya berlalu dengan cepat. Kini keluarga kecil ini dihadapkan dengan masalah yang pahit.
Bayi mungil tadi sakit dan harus dirawat. Masalah ini berbenturan biaya keluarga. Dengan tanggap Bapak mencari nafkah, kakak pun ikut mencari kerja sepulang sekolah dan adik pertama berjualan dengan ibu ke pasar. Hampir semuanya bekerja mencari biaya untuk adik tercinta ini.
Hingga akhirnya biaya terpenuhi dan adik dapat tertolong lebih cepat. Dengan perawatan ibu dan kasih sayangnya. Rupanya kakak ingin memperkenalkan nama dari masing-masing keluarga yang ada di dalamnya. Karena sebentar lagi, ia akan meperoleh beasiswa ke London bersama kelima rekan sekolahnya. Akan tetapi ia harus memperkenalkan keluarga kecil yang ada didalamnya agar rekan-rekannya mengetahui nama-nama dari adiknya. Adik pertama bernama Sofyan Abdur Rahman Al Ghazali, adik kedua bernama Farhan Aji Saputra, adik ketiga bernama Siti Fatimah Azzahra. Ternyata kakak hanya memperkenalkan adik-adiknya saja, ia tidak lekas memperkenalkan orang tuanya. Karena biarkan rekan-rekannya tadi berkenalan langsung dengan orang tuanya sekaligus lebih ta’aruf.
Kakak pergi ke London karena ia mendapatkan beasiswa dari sekolahnya untuk mengikuti festival pelajar Internasional yang diselenggarkan di London, tepat ketika hari ulang tahunnya. Walaupun ayah dan ibunda gembira, karena ada satu dari anaknya ke luar negeri. Tetapi kakak tidak melukiskan raut wajah gembira. Ia malah sedih karena akan meninggalkan ketiga adiknya yang baru berusia belia.
Sore harinya, sebelum fajar menenggelamkan diri. Kakak dan rekan-rekannya bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Sesekali ia sempatkan waktu untuk melihat wajah bayi mungil yang bernama Siti Fatimah ‘Azzahra. Rona wajah yang terlihat seperti cahaya putih yang menerangi di kalamalam telah tiba. Ia teringat dengan adik keduanya yang sekarang sedang bernostalgia disana. Peristiwa itu menenggelamkan dirinya kedalam tangisan dan rindu yang menjelma seperti fatamorgana. Ibu menitipkan pesan, “Jagalah dirimu baik-baik disana, walaupun masih  ada teman di sampingmu. Tetapi yakinlah pada dirimu, timbalah ilmu yang engkau dapat dan ajarkan kepada adik-adikmu yang masih kecil ini”. Kakak tahu dari raut wajah ibu yang gembira itu. Ada hal yang dirahasiakan, tetapi tidak di beritahu kepada kakak.
Tepat pukul 17.00, kakak dan rekan-rekannya menuju bandara. Disana mereka saling berpelukan, ada rasa sedih yang mendera dan rasa gembira yang membahana.
“Ayah, Bunda, Kakak pergi dulu ke London, jikalau nanti ada kabar baik disana kakak akan hubungi kalian, Kakak titip kepada ayah dan bunda untuk menjada adek Fian dan adek Zahra. Kakak pasti merindukan kalian di rumah”, pesan kakak untuk semua yang ada di rumah. Air mata itu kembali deras mengucur seraya meminta mereka untuk selalu bersama. Karena kakak begitu cinta kepada keluarganya di rumah.
“Untuk adek Fian, jangan lupa sholat 5 waktu. Jaga adek Zahra dari gigitan nyamuk, agar tidak menangis saat ibu bekerja”. Pesan itu di ungkapkan oleh kakak, sebenarnya apa yang kakak rasakan sangatlah sedih. Ia bertaruh dengan semuanya, tetapi bagaimana lagi. Inilah pilihan dan Allah telah memberikan jalan yang terbaik untuk semuanya.
Kedatangan pesawat, menambah tangis haru. Kakak tidak kuat meninggalkan mereka.
Hingga akhirnya, kakak pergi meninggalkan mereka. “Selamat Jalan, adik-adikku, ayah dan ibu. Selamat tinggal semua, kakak akan selalu merindukan dan tulus mencintai kalian”, dalam hati kakak berkata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar