Selasa, 20 November 2012

Puisi



DI ANTARA JENGKAL-JENGKAL TANAH
RIDA RH



Puluhan tahun negeri berhutan rimba
Belantara dan satwa di dalamnya pohon
Menampung air mengalir ke akar-akar pohon
Dan daun-daun tumbuh, dan embun menyentuh


Namun kini
Diantara jengkal-jengkal tanah kita berdiri
Berubah jadi tembok-tembok angkuh
Memaksa bumi
Merusak alam
Memotong ranting dan pohon
Membuahkan padang gersang dan banjir bandang
Ilegal loging, pertambangan, dan pembalakan
Jadi bencana


Berteriaklah bumiku
Berteriaklah alamku
Guncangkan dunia dengan tangismu
Tak ada embun yang datang bergeming di hati
Tak ada tajuk pohon menaungi
Karena hati keruh dan penuh debu


Kitakah yang diagungkan sebagai khalifah bumi
Diantara jengkal-jengkal tanah negeri

Puisi



SKETSA
Karya Arief  Kurniatama


Kristal putih menyinari kehangatan cerita ini
terbenam tanpa isyarat seketika malam tiba
duduk membaca sketsa di masa kuno
teringat akan dirinya
Wahai mutiara hati ...

Ingatan ini tak pernah terlupakan
kala kau sapu jari jemari ini
tatapan matamu senantiasa subur
Membangun langkah tegak
Suaramu lembut bak putri keraton jawa

Namun kini kita terbatasi oleh waktu
Ada kalanya Aku dan Kau merasa jauh
bahkan ketika hati terusik untuk bertemu
seolah mendekap rindu dalam bayang semu
dan
Adakalanya Aku dan Kau merasa dekat
Dekat sekali...bahkan lebih dekat dari apa yang kita rasakan
Apa yang kita harapkan
dalam setiap bentang sepanjang kenangan
saat ini,
saat itu,
dan saat yang akan datang


Disinilah, di lubuk hati ini
Ada asa yang menghujam begitu dalam
Di langit jingga itulah kutebar sayang sepanjang kenangan
bahkan di seluruh waktu
untukmu
untukku
dan untuk semuanya